 |

Feb 6, 2009
Am looking outside the window
Catch a glimpse of what night gives
Sparks of little lights O, beautiful
There appears blowing my mind away
City bright lights tonight
Smell that after rainy breezy smell
Breathe those feeling abundanlty
Hang in now the piece peace of my soul
La, la, la, I'm singing this to you
I huff you huff unseen night clouds
Sshowing you the universe my tender thoughts
Deepen this night hurry before bright
Good night to you my nice night
Keep standing facing my window for my sake
As tomorrow and forever sun shines
Be there so close to where I am
Posted at 08:55 pm by dorasihotang
Permalink
Ini Untuk Ibu Di Seluruh Dunia
Ibu, dirimu bagai obat mujarab buat segala sakitku. Melihat wajahmu, mendengar suaramu, merasakan belaianmu, memegang tanganmu buat jiwa ini jadi tenag. Tak kan mampu bdiri ini menjadi siapa pun tanpa dirimu yang ikut mengukir kehidupanku. Ibu, perjuanganmu setiap hari memberiku kekuatan untk jadi satu hadiah yang bisa kau banggakan. Ibu, entah apa jadinya jika Tuhan tidak menciptakan sesosok dirimu di hidupku, kupastikan gelap dan kosong seluruh duniaku.
Ibuku, lelah kah dirimu sekarang ini? Apa yang tengah mengganggu pikiranmu saat ini? Dirikukah? Apakah pusingmu kambuh lagi? Adakah orang-orang di luar sana yang membuat hatimu kesal? Apa lagi yang belum selesai kau kerjakan? Ibuku, tak inginkah kau duduk tenang beristirahat sebentar saja? Ibuku yang manis, masihkah kau sebut namaku dalam setiap doa panjangmu?
Ibu, dalam banyak yang pernah terjadi dalam setiap menit hidupku, percayalah aku akan selalu rindu rumah. Ku akan selalu rindu pulang ke tempat dirimu berada. Ku ingin selalu berbagi cerita denganmu. Ku ingin ceritakan bagaimana hariku, teman-teman yang kusuka, pria yang kusuka, dan masih banyak lagi.
Ibu, dirimu satu pribadi tempat di mana aku selalu yakin diriku dicintai. Yanpa banyak syarat untuk jadi yang terbaik. Ku percaya cintamu takkan berkurang. Terima kasih tak terhingga untuk dirimu, ibuku buat kehangatan hidup ketika 9 bulan 10 hari bersemayam di tubuhmu. Terima kasih luar biasa buat sakit dan keringat yang pernah kau berikan demi tangisan pertamaku.
Ibu, apa yang kau berikan tak kan pernah bisa kukembalikan, tak kan pernah bisa kubalas dengan cara apa pun aku ingin membalasnya. Kau mengganti duniamu dengan diriku. Kau ganti kegemaran menyanyimu dengan rengekan ku setiap hari. Kau ganti kesukaanmu mengurus bunga dengan mengurusku. Kau mampu mengganti banyak hal yang kau sukai demi aku. Sakitmu ibu, tangismu Mama, jeritan hatimu Bunda, dan segala deritamu yang pernah ada buat aku mencnitamu lebih dan lebih lagi
Posted at 07:46 pm by dorasihotang
Permalink
Aug 27, 2008
Hari ini tepat pukul 03.57 sore hari. Keadaan langit terang benderang, tak hanya cerah terang tapi juga hujan deras. Saya tak punya pilihan lain selain diam di dalam kamar dan menulis. Laptop ACER yang anyar ini langsung jadi teman setia setelah, Andrew pergi ke tanah air meninggalkan saya kekasihnya sendirian di Bangkok. Perlu diketahui selama saya mengetak-ngetik ini suara Mas Andrea Bocelli turut mengiringi bukan lantaran saya suka tapi karena suara khas nya mengingatkan saya pada Andrew.
Berada di kamar tengah hari lalu ditemani hujan plus langit terang benar-benar kebetulan yang manis. Saya selalu suka menatap hujan deras ketika langit cerah, seperti membawa perasaan yang romantis. Perasaan dan imajinasi di dalam diri langsung melayang ke suasana yang indah-indah. Suasana nya tidak selalu nyata untuk digambarkan tapi cukup jelas untuk dirasakan. Lalu hati ini pun bertanya-tanya apa yang Andrew lakukan dan rasakan saat ini ya? Dari sejak lima tahun yang lalu sampai sekarang saya tak pernah berhenti ingin tahu bagaimana Andrew setiap hari. Hihihi, tak pernah sedetikpun saya kehilangan rasa rindu akan Andrew.
Ah, hujan sudah berhenti rupanya. Serentak keinginan untuk melanjutkan menulis pun hilang. Ternyata inspirasi saya untuk menulis hanya sebatas hujan plus langit terang saja. Tak apa lah mungkin lain kali saya akan bangun inspirasi saya ke hal-hal lebih luas lagi. Seinring dengan berakhirnya Santa Marisa dari Andrea Bocelli berakhir jugalah tulisan akibat efek samping dari hujan. Sekian dan terima kasih.
Posted at 01:56 am by dorasihotang
Oct 9, 2007
Sekarang Selalu Hari Baru
Siapa yang bisa memastikan esok hari selau jadi hari yang kau inginkan? Aku selalu ingin bangun di keesokan hari dengan semangat yang sama yang kupunya jika aku sedang jatuh cinta. Semua terasa benar, patut, indah, ceria, dan seterusnya. Tetapi kecintaanku pada esok hari lalu membuatku jadi sibuk mempersiapkan kedatangannya. Aku melupakan hari yang sekarang, mengabaikannya, karena kutahu sebentar lagi sekarang akan berganti esok.
Jika saja waktu-waktu yang kemarin itu mampu kuputar semudah membalikkan kaset video mungkin banyak cacat luka yang telah kubuat di hari-hari sekarang yang kemarin-kemarin itu. Menit demi menit yang terbuang, jam demi jam yang tersia-siakan demi menanti esok yang belum tentu baik. Seandainya saja aku tidak menganak-tirikan hari yang sekarang....
Apakah ini mungkin karena semua orang di segala masa selalu berkata 'lihat ke depan'. Segenap energi pun terkonsentrasi melihat ke depan, ke esok hari. Aku pun dengan jiwa sukarela menanti si esok, padahal hari yang baru akan selalu jadi yang sekarang dan hari yang sekarang adalah esok buat yang kemarin.
Paling tidak aku telah belajar sekarang untuk jadi hari orang yang sekarang sekaligus menanti datangnya esok tanpa melupakan yang kemarin. Akan kugunakan sekarang sebaik yang jiwa ceriaku mampu lakukan. Setiap sekarang membawa pelajarannya masing-masing dan tak pernah sama. Karena sekarang sesungguhnya selalu baru.
Posted at 08:32 pm by dorasihotang
Permalink
Jul 17, 2007
Hei! Hei! Kataku.Kuharap gendang telingamu masih cukup sehat untuk mendengar teriakanku malam ini. Atau kalau kau tak mendengarnya, akan kucoba lagi untuk berteriak besok malam. Pokoknya aku akan terus berteriak "Hei! Hei!" sampai kau mendengarnya, sampai kau bertanya padaku "ada apa teriak-teriak?!"
Aku, diriku, dan keseluruhan diriku akan segera pergi dari tempat ini. Segera, ya segera. Tempat ini terlalu sesak, aku mencium bau kekalahan di sini. Kau tahu aku tak pernah suka mencium bau kekalahan. Aku tak mau kalah sekarang juga nanti. Aku tak ingin menyerah. Pahamkah kau?! Menyerah itu bodoh. Kalah itu memalukan. Jadi, jangan panggil aku untuk kembali. Aku pasti akan segera pergi. Aku tahu itu.
Apa aku berani? Katamu. Aku tak punya banyak pilihan lain, kawan. Cuma keberanian yang kupunya sekarang meskipun itu kecil. Keberanian kecil yang tak akan kuserahkan pada jenis kekalahan apa pun yang pernah ada.
Hari yang baru akan segera muncul. Alam semesta berputar semakin cepat. Ku tak memiliki energi sebesar yang ku mau untuk menahannya di titik yang ku mau. Jadi, berhenti berdiri saja, berhenti bermimpi saja, berhenti mengeluh. Dengar tidak?! Hei! Hei! I'm talking to you. Yeah, to you. Tempatmu bukan di sini, kau tahu itu?! Enyah sekarang, jangan pernah berpikir menjadikan tempat ini milikmu.
Udara akan selalu ada di sini menungguku memulai. Nafasku belum juga habis. Cakarku belum lagi tumpul. Gelap bukan berarti habis. Kalah hari ini tentukan menangku esok hari. Cintaku pada hidup kan terus mani. Cerita bahagiaku menanti setia di ujung jalan panjang ini. Ku kan terus berjalan, menghiraukan luka, mengacuhkan pedih. Mengajak seluruh diriku tuk bangkit detik ini juga.
Posted at 06:10 am by dorasihotang
Permalink
Jun 27, 2007
Kasih, betapa aku ingin ada di sana tepat di mana sejuta bintang hadir di matamu.
Kuingin kalahkan segala rintang meski tajam setajam onak yang mengakar luas dan kuat.
Aku tak kan pernah merasa cukup dengan seribu hari, ku ingin sepanjang masa.
Mengalahkan apa saja yang ada di depanku walau dengan hujan air mata yang mungkin tak kan pernah berhenti.
Ku mau ceritakan segudang cerita perjalananku tepat di malam hari sebelum dirimu terlelap.
Kekuatanku hampir habis, kasih. Ku butuh dirimu, cuma dirimu saja tuk buat diriku kembali tangguh.
Ku mampu mengusir kelabunya langit jika ada di dekatmu di belahan dunia manapun.
Berhenti di situ saja, kasih, berhenti di titik di mana kita memulai merekam semua cerita bersama.
Waktu yang kian tua ini telah membawaku ke jalan di mana dirimu juga menjalaninya.
Hari-hari yang mungkin tersisa tak kan kulewati, tak kan kuisi jika tak ada dirimu di dalamnya.
Kasih, betapa aku ingin hanya ada di sana tepat di mana dirimu berbaring lelah dan letih.
Ku kan musnahkan seluruh titik lelah di tubuh dan jiwamu agar mampu lewati selluruh malam ini.
Posted at 06:08 pm by dorasihotang
Permalink
Jangan katakan padaku seperti apa rasanya sedih itu, jika kau belum pernah merasakannya. Sudah! Tidak perlu kau repot-repot menjelaskan betapa kau mampu merasakan dukaku. Pedihku, sedihku, dukaku tidak sama dengan apa yang ada di kepalamu. Bahkan akal sehatku pun menyerah untuk bisa menjelaskan padapatung sekalipun.
Aku cumaingin diam membisu saja. Ku hanya ingin kaku tidak bergerak.Meski badai, hujan, banjir datang kuingin tetap mematung. Biar saja tubuh kaku ini terhempas. Ku pasti diam. Seluruh jiwaku terlalu sedih tuk bisa merasakan sakit. Diam saja di tempatmu sekarang. Tak perlu menghampiriku tuk tunjukkan wajah manismu. Jika ada yang harus bertanggungjawab akan pedihnya hatiku itu pasti hanya aku. Bukan siapa-siapa. Tidak kau, tidak Tuhan, tidak alam semesta.
Rasa sedih yang hadir sekarang, ia tidak datang dengan sendirinya. Akulah yang mengundangnya, mengijinkannya datang, bahkan memintanya untuk tetap ada sepanjang malam ini. Biar saja dunia ini anggap aku aneh. Atau kau mulai bingung melihatku? Tapi kau harus tahu! Sungguh kau harus tahu! Cuma rasa sedih ini yang mampu menggantikanmu sampai kau memutuskan untuk kembali.
How I'm glad to be sad!
Posted at 05:52 pm by dorasihotang
Permalink
Mar 20, 2007
Ratapku begitu sunyi malam ini Dinding segala mimpi bergerak menjauh Izinkan wahai cinta............. Diriku sejenak larut dalam sedih ini Melampaui gerak bintang yang terjauh
Pedih ini kusimpan rapih di kotak jiwa Ku memilih meringsut mati merana Aroma lembut kasihmu takkan hadir lagi Hantarkan satu kisah sedih cintaku
Ribuan waktu yang terlewati, berhentilah hadir! Biarkan hitamnya masa gantikan hidupku Pijaran hangat itu tak lagi milikku Cerahnya senyum mentari berlari menghilang Ku ingin lupakan panas bara cintamu
Iya, itu yang kuinginkan...... Kuingin sendiri, sendiri saja Sendiri sampai lelah Sampai kesendirian lelah menemaniku Pergilah, pergi saja
Berlalulah, tanpa sedetikpun menoleh Ku telah lelah berharap Hiruplah nafas duniamu yang baru Setiap senti diriku kan terus dingin Oh, ku ingin berakhir
Posted at 02:19 am by dorasihotang
Permalink
Jika gelap itu hadir sekarang Ku pasti siap tuk menyambut Kan kukatakan 'betapa telah lama aku menunggu' Dan saatnya merebahkan jiwa yang lelah
Angin di luar kehidupanku bagai kerontang Menakut-nakuti nyali kecilku yang hampir terbakar Gelora gairah mata hatiku berangsur padam Berteriak meminta sekotak penuh harapan
Ku tak mau lagi mencari dan berharap Diriku telah kuserahkan pada kekalahan Kalah lah yang jadi pemenangnya Jangan berhenti, Kalah! Tetaplah Kalah!
Hamparan demi hamparan telah tamat Perantauan kisah telah tiba di halaman terakhir Sampai di manakah gundahmu berjalan? Biar larut leleh massa semangat itu
Tunduklah wahai diriku pada tenangya malam Derita kan selalu punya kisah akhir Ceritakan saja pada bentangan awan yang diam Betapa tak pedulinya semesta pada dirimu
Jika larimu semakin kencang maka berhentilah Tunjukkan keringnya sumur hidupmu Sungai telah berhenti mengalir Diriku akan tetap kalah, menyerah, dan kalah
Posted at 02:03 am by dorasihotang
Permalink
Mar 13, 2007
Natal dan Sebuah Pekerjaan (Sebuah Curhat Menjelang Natal)
Jakartaku sudah mulai basah kembali. Hadiah rutin penghujung tahun yang kusuka. Kutatap nuansa hujan bulan Desember dengan senyum kecil. Kuizinkan diriku sejenak menikmati perasaan romantis yang hujan bawa pagi ini. Aku mau bilang padaNya, kalau aku meski aku tanpa pekerjaan, menganggur, aku masih mampu nikmati hari.
Hari lahirMu, Bapa hampir tiba. Rasa-rasanya hatiku ini semakin sering bersenandung 'O, Holy Night'. Setangkup kesyahduan sekaligus kemegahan datang perlahan membungkus batinku. Aku senang, meski aku tanpa pekerjaan, menganggur, aku masih mampu rasakan semangat Natal.
Sejuta harapan bergantian muncul di kepalaku. Ku ingin lewati hari lahirMU dengan jiwa kekanak-kanakkanku. Ku mau rayakan Natal dengan tidur semalaman di bawah pohon Natal sambil memeluk anjing kesayanganku. Angan-anganku, ku mau bawakan sekotak hadiah berisi puisi indah untukMu. Ku mau berlompat-lompatan tepat di tepi Goa Maria yang indah tempat di mana ribuan lilin menyala terang. Lalu, tak lupa untuk tetap berdoa agar aku dapat hadiah Natal dariMu, sebuah pekerjaan yang kuidam-idamkan.
Aku teringat sesuatu! Aku tak pernah merayakan Natal dengan cara berbeda. I always have the same Christmas every year. Tetapi kali ini berbeda. Kali ini Natalku berbeda. Kali ini Natalku tanpa baju baru. Keadaanku yang tanpa pekerjaan tak mengijinkanku tuk punya baju baru, parfum baru, dan celana baru. Tapi tidak. Ku tidak ingin bilang sedih. Semangat Natalku mampu tutupi sedihku. Hebat. Maksudnya 'aku hebat!'. Ya, aku hebat. Ternyata, aku begitu mencintaiNya. Kau akan lakukan apapun untuk tidak bersedih di hari ulang tahun orang yang kau cintai bukan? Aku juga. Ku tak ingin bersedih di hari ulang tahunNya. hanya karena tak punya baju baru, parfum baru, apa-apa baru.
Terima kasih, Bapa yang baik. Terima kasih, Kau telah hadirkan semangat Natal ini untukku. Tetapi jika ku boleh meminta, ku ingin rayakan Natal lengkap dengan sebuah pekerjaan. (Dec 4th'06)
Posted at 02:02 am by dorasihotang
Permalink
|
 |
|
|
|
|